Jumat, 06 September 2013

MORTALITAS DAN LAJU EKSPLOITASI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN GALESONG SELATAN KAB. TAKALAR


Mortalitas dan Laju Eksploitasi
            Pendugaan laju mortalitas merupakan hal yang penting dalam menganalisa dinamika populasi ikan, laju mortalitas dapat memberikan gambaran mengenai besarnya stok yang dapat dieksploitasi terhadap suatu populasi.
Berdasarkan nilai parameter pertumbuhan yang diperoleh maka hasil perhitungan (Lampiran 11, 12 dan 13) di dapatkan nilai laju mortalitas total (Z), laju mortalitas alami (M), laju mortalitas penangkapan (F) dan laju eksploitasi (E) masing-masing sampel kepiting rajungan yang di analisa seperti pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3.     Nilai Dugaan Mortalitas (Z, M, F) dan laju Eksploitasi Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Galesong Selatan Kabupaten Takalar

Kategori
Sampel
Mortalitas
Total (Z)
(per waktu relatif)
Mortalitas
Alami (M)
(per waktu relatif)
Mortalitas
Penangkapan (F)
(per waktu relatif)
Laju
Eksploitasi
(E)
Jantan
1,80
0,34
1,47
0,81
Betina
1,71
0,35
1,36
0,79
Gabungan
1,64
0,36
1,27
0,78
           
Dari Tabel 3 terlihat bahwa mortalitas penangkapan (F) kepiting rajungan jantan, betina dan gabungan lebih besar dari mortalitas alami (M). Hal ini menunjukkan bahwa kematian kepiting rajungan di perairan Galesong Selatan Kabupaten Takalar umumnya disebabkan karena faktor tingginya frekuensi penangkapan terhadap kepiting tersebut.
            Besarnya kematian karena faktor disebabkan banyaknya kapal-kapal atau usaha yang bergerak di bidang penangkapan terutama yang menggunakan alat tangkap dasar, kurangnya pengawasan terhadap ukuran mata jaring, tidak adanya pembatasan daerah operasional dan kurangnya sosialisasi  dari pihak atau instansi terkait kepada pihak nelayan untuk memberi pemahaman dan melaksanakan tentang pentingnya kelestarian sumberdaya ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Nessa (1986) bahwa, jika penangkapan dilakukan secara terus menerus untuk memenuhi permintaan konsumen tanpa adanya suatu usaha pengaturan, maka sumberdaya ikan dalam kurung waktu tertentu dapat mengalami kelebihan tangkapan dan berakibat terganggunya kelestarian sumberdaya.
            Junaedi (2000) melakukan penelitian di Pulau Salemo Kabupaten Pangkep mendapatkan nilai mortalitas 1,142 per tahun untuk jantan dan 1,2980 per tahun untuk betina, mortalitas alami 0,707 per tahun untuk jantan dan 0,768 per tahun untuk betina, mortalitas penangkapan 0,435 per tahun untuk jantan dan 0,530 per tahun untuk betina. Selanjutnya Anita (2006) di Pulau Battoa mendapatkan nilai mortalitas total 0,9920 per tahun untuk jantan dan 1,3960 untuk per tahun untuk betina, mortalitas alami 0,4628 per tahun untuk jantan dan 0,5075 per tahun untuk betina, mortalitas penangkapan 0,5292 per tahun untuk jantan dan 0,8885 per tahun untuk betina. Nilai mortalitas yang berbeda dari beberapa penelitian di atas dengan yang ada di perairan Galesong Selatan Kabupaten Takalar di duga karena kondisi perairan yang tidak sama sehingga penyebab kematian alami akan berbeda, dan jumlah atau intensitas penangkapan di masing-masing daerah yang berbeda pula. Laju eksploitasi menunjukkan besarnya tingkat pengusahaan suatu stok perikanan. Laju eksploitasi (E) kepiting rajungan (Portunus pelagicus) yang diperoleh sebesar 0,81 per waktu relatif untuk jantan, 0,79 per waktu relatif untuk betina, 0,78 per waktu relatif untuk gabungan (jantan betina). Ini berarti bahwa kepiting rajungan di perairan Galesong Selatan Kabupaten Takalar  memiliki laju eksploitasi tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar